Saturday, 4 October 2014

Bersyukur untuk Romantisme

Bulan tua ini sudah melenggang pergi saja
Digantikan bulan baru,
masih muda dan semangatnya menebarkan wangi lain

Sudah habis bulan September, sudah tepat sebulan aku magang kerja. Selama sebulan ini banyak yang datang dan pergi di kantor. Hal yang pergi antara lain adalah teman kerjaku Mas Nega (si arsitek) yang sudah resign, pengganti Mas Nega anak SMK yang cuma bertahan masuk kerja dua hari juga sudah pergi, isi stoples Tupperware yang sudah dua kali regenerasi, empat buah bolpen Faster yang sudah pada mencelat entah kemana misterius banget pokoknya, dan debu-debu lantai yang pergi karena setiap pagi disapu oleh Mala (si admin). Hal yang datang antara lain satu kardus air mineral yang baru dibeli Mala, laptop baru, printer baru, materai baru, dan debu-debu juga kembali datang lagi karena setiap pintu teras dibuka mereka selalu saja berebut untuk masuk.

Selama sebulan ini juga sudah beberapa kali juga aku izin nggak masuk antara lain karena ada panggilan tes kerja, job fair, ada juga yang karena ngurus wisuda. Padahal ya baru masuk kurang dari sebulan, udah ijin-ijin gitu ya malu juga duh -_- Itupun sudah ada beberapa urusan yang aku titip-titip.

Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 27 dan 28 September ada job fair yang diselenggarakan UGM, di Jogjakarta tentunya. Berhubung sudah terlalu banyak hari ijin ya, aku atur waktu supaya magang kerja ini tetap masuk tapi juga ke Jogjakarta tetap gas. Sedikit bosan dengan rutinitas setiap hari yang gitu aja, kayanya perjalanan ke Jogja meskipun singkat gini akan jadi selingan yang bagus juga. Apalagi perjalanan nggak sama siapa-siapa, sendirian aja. Pastinya lebih bebas, mau melamun sedih juga gak ada yang akan interupsi haha. Travel jadi pilihan bagus bingit buat berangkat, karena cuma travel aja yang ada berangkat malam hari trus bisa sampainya pagi. Jadi aku nggak perlu bolos magang. Pulangnya pun juga gitu, malam hari tanggal 28-nya aku balik pakai travel dan sampai Malang pagi jam 7 trus langsung gas berangkat magang kaya biasa.

Banyak sekali yang aku dapatkan selama perjalanan singkat ke Jogjakarta. Selain aku bisa makan Magelangan di Burjo (sumpah aku merasa keren banget bisa makan di Burjo kenapa ya, wakakakak), yang utama adalah aku bisa melihat kampus selain UB. Atau UM, si tetangga. Job fair ini diselenggarakan oleh ecc fakultas teknik UGM, jadinya diselenggarakannya pun di UGM. Yoman siapa si yang ngga kenal UGM, Universitas Gadjah Mada kepanjangannya. Setiap tahun dalam SNMPTN dan jalur masuk mandiri aku yakin puluhan ribu cabe-cabean belajar dengan rajin dan makin rajin dari hari kehari untuk bisa masuk ke UGM ini. Aku nggak paham apa yang membuat nama kampus ini begitu besar, mungkin karena beberapa petinggi di negeri kita ini lulusan sini kali ya. Tapi aku juga sudah nggak begitu peduli dengan nama besar kampus ini, karena bagiku yang lebih menarik sampai buat mataku keluar-keluar adalah kampus ini besar dalam artian sesungguhnya. JENG JENG. Suwer sampe bibirku dower.

Jogjakarta ini rasanya isinya UGM semua. UGM ini kayak Burjo yang ada dimana. Setiap tempat pasti ada hubungannya dengan UGM, ada aja embel-embelnya UGM gitu. Mungkin kalau disatukan luas daerah-kekuasaan-UGM ini setara dengan luas Kotamadya Malang ya. Entahlah, Spongebob. Habisnya sumpah ada dimana-mana dan setiap tempat besar banget gitu. Kampus UGM yang kumasukin adalah yang ada GSP-nya (Grha Sabha Pramana). Entah itu kampus yang apa, tapi waktu jalan kaki menuju tempat nunggu bus kota rasanya lengang dan sunyi, suasana yang nggak pernah kudapatkan di UB kecuali pas pulang malam jam 11an haha. Ya mungkin juga karena waktu itu kan hari Minggu. Tapi aku yakin suasananya nggak akan jauh berbeda, akan sama tenangnya seperti ini.

Sampai perjalanan pulang aku masih terbayang dengan segala tentang UGM yang mengagumkan. Ketenangannya, luas lahannya, dan mungkin ketenarannya di telinga semua orang. Aku jadi mengkhayal bagaimana ya kalau misal dulu aku kepikiran untuk masuk UGM, Teknik Sipilnya mungkin. Karena dulu aku terlalu fokus sama pingin masuk jurusan DKV karena suka nggambar meskipun gambarku jelek banget, jadi yang kuincar ya kampus-kampus yang ada DKV-nya aja. UGM nggak ada DKV, jadi nggak terlintas sedikit pun. Pilihan kedua memang Teknik Sipil, tapi aku nggak peduli di kampus mana karena bagiku aku nggak mungkin terperosok pilihan kedua. Songong banget haha. Pokoknya DKV kudu dapatlah. Haha. Tapi ternyata kemungkinan 'terburuk'-lah yang aku dapat, pilihan kedua yaitu UB Teknik Sipil. Ini jurusan yang isinya hitungan semua, ada sih nggambar tapi nggambarnya pakai penggaris alias nggak DKV banget *sotoy*. Benar-benar perkuliahan yang suram, jauh dari bayangan. Nggak akan ketemu sama teman-teman gondrong muka lemas yang jago gambar, nggak ada teman yang kuliahan pakai kaos dengan gambar sendiri, di Sipil semua tampak surem. Udah gitu awal-awal masuk kan musim hujan jadinya selalu mendung, makin surem deh hahaha.

Tidak hanya suasana jurusan yang nampak surem, rasanya UB sendiri pun surem banget. Hawanya panas dan karena di UB ini nggak ada jurusan DKV-nya, rasanya nggak nyaman aja gitu berada di dalam sini. Selain itu susah banget cari parkiran di UB ini, jadinya datang ke kelas mesti kepepet jamnya. Pada jam-jam tertentu pun di dalam kampus bisa macet. Awalnya aku merasa biasa aja ya dengan macet dan sulitnya cari parkir ini. Tapi setelah cerita ke teman-teman yang kuliah di tempat lain, ternyata hal ini sangat aneh buat mereka. Mereka heran banget di dalam kampus kok macet. Bagaimana bisa di kampus sendiri nggak dapat parkiran. Ah iya, nggak jarang juga di badan jalan ada mobil parkir. Mungkin ini juga yang membuat kemacetan (selain karena makin banyaknya murid tiap tahun sangat gak imbang dengan luas UB yang segitu-gitu aja).

Sambil memejamkan mata, aku terus membandingkan betapa kampusku busuk banget jelek banget dan nggak ada bagus-bagusnya dibandingkan UGM. UB mundur! UB, dengan lambangnya Raja Brawijaya kenapa bisa begitu jauh lebih terbelakang dibandingkan UGM yang cuma pakai Patih Gadjah Mada?

Malam semakin menggelap. Tiba-tiba lamunan tegang itu tersela oleh henpon yang tiba-tiba bunyi. Kaget deh, tumben aja ini henpon bunyi. Hahaha. Ternyata dari Mala. Dia menanyakan tentang kunci motorku yang sempat hilang kemarin sepulang kerja magang. Iya jadi siangnya sebelum berangkat ke Jogja itu kunci motor aku sempat menghilang gitu dan ternyata ketemunya di dalam helm, ajaib banget -_- Aku jadi ketawa sendiri ingat kemarin, saat kuncinya ketemu dan hal-hal bego yang aku dan Mala lakukan sebelumnya.

Mala yang kuning!

Baru 30 hari terlewati tapi rasanya dengan Mala aku sudah ketawa bareng 50 hari lebih, haha. Soalnya yang dia ceritakan banyaknya cerita konyol dan aneh tentang hidupnya, aku mesti ketawa sampe bungkuk-bungkuk ngulet di lantai. Meskipun di beberapa kesempatan ada juga dia yang cerita sedih, mengeluh. Seringnya tentang pekerjaan, bersangkutan dengan pendidikan terakhirnya. Bagaimana dia yang hanya lulusan SMK pingin banget bisa kerja kantoran. Mungkin kerja di bank, lalu dapat bayaran diatas dua juta rupiah. Meskipun selama ini bayaran yang dia terima membuat hidupnya tidak merasa kurang, tapi "aku pengen pegang uang banyak, Git..."

Saat aku cerita kenapa ya aku nggak dapat panggilan kerja, Mala tersenyum dan tetap menyemangati sambil berujar bahwa memang sulit sekarang cari kerja, aku nggak boleh pantang menyerah. "S1 aja susah, gimana aku yang SMK." #jleb #jleb #jleb #jleb #crot #crot #crot #crot. Lain waktu kalau aku cerita tentang tugas-tugas semasa kuliah, dia mendengarkan dengan khidmat, kayak lagi upacara gitu. Lalu berkata kalau dia juga pingin sekolah lagi alias kuliah. Mungkin sekedar diploma atau kalau bisa sih S1, supaya bisa kerja dengan bayaran yang lebih. "Meskipun kuliah mungkin berat, tapi kalau sebanding dengar bayaran yang diterima pas kerja kayaknya enak ya, Git." #jleb #jleb #jleb #jleb #crot #crot #crot #crot 

Sementara perjalanan menuju Malang tetap berjalan melewati kota-kota yang sudah terlelap, bayangan wajah Mala seperti ikut dalam perjalanan malam itu. Selama ini banyak cerita tentang bagaimana keseimbangan alam berjalan. Tapi aku cuma dengar dari film, cerpen, dan bacaan lainnya. Seberapapun beruntungnya hidup seseorang, pasti ada celanya. Sebaliknya, seburuk apapun hidup orang lain pasti ada satu sisi justru kehidupannya itulah yang diinginkan orang lain. Magang kerjaku yang pertama ini mendekatkan aku dengan keseimbangan hidup yang paling nyata.

It was about The Sawang Sinawang (jare wong jowo sih ngono...)
Bagiku Mala beruntung juga, dianya cantik. Wajahnya putih. Dia nggak perlu mencari perhatian untuk membuat orang melihat dia. Mala makannya juga dikit, jadi nggak perlu takut "duh aku gendutan" kayak aku... ya meskipun dia juga masih mikir gitu sih haha namanya juga cewe zzz. Tapi bagi Mala, aku jauh-jauh lebih indah dari sekedar Gita (ciyeee). Aku sekolah tinggi sampai S1, jadinya aku bisa kerja enak bayaran juga enak. Masing-masing dari kami merasa kehidupan yang lain lebih enak. Tapi akupun sadar, meskipun aku merasa kehidupan Mala lebih baik dalam beberapa hal aku sudah diberi lebih-lebih oleh Allah. Nggak sepantasnya aku mengeluh atau membanding-bandingkan kondisiku dengan dia punya.
Benar Mala bilang, aku sangat beruntung masih bisa sekolah sampai S1. Setidaknya semenyebalkan apapun kuliahku, bagaimanapun tugasnya telah merebut masa mudaku, tapi untuk kedepannya aku justru bisa mendapat pekerjaan yang baik kalau aku mau benar-benar berusaha. Sekalipun aku kuliahnya di UB, universitas yang di dalam kampusnya aja macet... Sebusuk apapun pengelolaan UB, semenyebalkan apapun kebijakannya bagiku yang membuat dia jadi kampus yang begitu padat karena penerimaan murid yang terlalu banyak setiap tahunnya, apapun itu kampus itu adalah kampusku. Kampus yang sudah kudatangi dalam empat tahun ini. Kampus biruku yang mau-maunya menampung aku saat semua kampus menolak aku, bahkan oleh jurusan yang kujadikan prioritas diatas semua prioritas. Kampus yang masih mau membagi sesedikit ilmu baik akademis maupun kehidupan. Kampus yang sudi memberi aku gelar sarjana, sebagai tanda aku sudah melewati proses terakhir menjadi pelajar budiman .




Tetap semangat buat Mala! Terima kasih untuk Universitas Brawijaya, terutama jurusan Teknik Sipil. KBMS terutama S'10 tentang ilmu yang sudah dibagi dan segala pelajaran hidup yang sudah mendewasakan sampai aku bertransformasi penuh dari Gentong menjadi Gita. Selamat memperjuangkan mimpi masing-masing, teman. :)