Wednesday, 21 January 2015

Allah is The Best

Sejak hari Sabtu lalu aku kedatangan tamu. Bulan, begitu orang-orang perempuan memanggilnya. 
Sekarang sudah hari Rabu dan dia belum juga pergi. Aku senang aja sih dia datang. Aku juga seperti semua perempuan yang selalu mengharapkan kunjungannya sebagai tanda bahwa aku masih normal. Hwehehehe. Tapi meskipun begitu, kalau Bulan datang aku juga banyak ngeluhnya karena di keseharianku terjadi perubahan. Memang nggak banyak perubahan itu, tapi perubahan tetap saja perubahan.

Saat Bulan datang, aku jadi kurang bisa kemana-mana. Sebetulnya kemana-mana disini artinya cuma dua sih, ke tempat wudhu dan ke masjid. Hohoho. Waktu yang biasanya kugunakan untuk kesana jadi kosong, tapi aku juga nggak tahu harus menggantinya dengan kemana.

Saat Bulan datang, aku kehilangan waktu untuk berdua saja dengan satu-satunya teman curhatku saat ini. Dialah Allah (Allah marah nggak ya aku bilang Dia teman curhat :-|). Biasanya sehari bisa lima kali lebih bertemu, lalu cerita tentang hal yang sama atau berbeda-beda setelah sholat. Waktu masuknya sholat adalah waktu yang paling aku tunggu, karena ini kesempatan bisa bersama Dia. Seperti halnya anak SMA yang nunggu jam istirahat gimana sih? Tahulah...
Aku seneng bercurhat-curhat sama Allah setelah sholat. Rasanya? Sama seperti anak-anak cewe di seluruh dunia yang seneng bisa curhatan sama sohibnya pas lagi ada acara nginep, pas jam pulang, pas jam istirahat, bahkan pas jam pelajaran. Nyaman. Selalu ingin begini terus, berlama-lama dan gak pingin pisah. Karena dengan-Nya aku bisa cerita apapun, dalam kalimat puitis yang aku rangkai sendiri. Aku gak perlu takut yang kuceritakan akan bocor ke siapa-siapa. Lalu aku bisa minta apapun, meminta ampun bahkan meminta kamu :-p Aku bisa nangis seratus kali senggukan dan Allah akan menenangkanku dengan cara yang aku suka: nggak menepuk-nepuk pundakku, nggak memberi penghiburan, nanyain 'kenapa git?', atau lainnya. Karena Allah tahu, kalau air mata sudah turun untuk menuju muaranya aku nggak perlu mencari kata lagi untuk menceritakan semuanya. Cukup membiarkannya mengalir, jatuh ke tanah bersama sekawanannya menuju laut. Menjadi satu dengan gumpalan muram yang lain.

Saat ceritaku mengalir, Allah gak menyela sebelum cerita itu berakhir. Allah seperti buku diary aku jaman SD dulu, buku diary bergambar strawberry hologram. Buku itu, Allah itu, ga pernah membanding-bandingkan cerita aku dengan cerita-Nya, seperti yang orang lakukan akhir-akhir ini (bikin sebal!-_-). Membanding-bandingkan hanya akan membunuh karakter. Dia tahu aku cuma ingin didengarkan. Maka begitulah Dia setiap waktu, sambil memandangiku entah dari mana.

Dia bukan hanya mendengar apa yang aku katakan, tapi juga mendengar apa yang tidak kukatakan.
Thank You, Allah! 


Aku bersyukur masih menjadi perempuan normal yang masih dikunjungi Bulan setiap bulan. Tapi Ya Allah, apakah kau merasakan? Aku betul-betul merindukan-Mu.